Google Ads × Meta Ads — Benchmark 2026

Kalkulator ROAS & Cost Benchmark

Bukan cuma Revenue ÷ Spend. Kalkulator ini menghitung breakeven, net ROAS setelah HPP/ongkir/fee/pajak, blended MER, LTV:CAC, payback period, lalu membandingkan semuanya ke benchmark industri — plus simulasi skala budget dan goal-seek target ROAS.

Ringkasan Performa

Total Ad Spend
Total Revenue
Blended ROAS (MER)
Break-even ROAS
Net ROAS (setelah HPP, ongkir, fee, PPN)
Net Profit
LTV : CAC
Payback Period

Instrumen ROAS — Posisi vs Breakeven & Benchmark

Rugi — di bawah break-even:
Untung, tapi di bawah rata-rata industri
Setara benchmark industri:
Top performer (jauh di atas rata-rata)
Google: – Meta: – Blended: –

Tabel Perbandingan

Radar Efisiensi

Google Ads
Meta Ads

Makin jauh dari titik tengah = makin baik. Sumbu CPC & CPA dibalik arahnya (biaya rendah → titik tinggi) supaya semua sumbu konsisten: luar selalu lebih bagus.

Simulasi What-If — Skala Budget

Spend Baru
Revenue Proyeksi
ROAS Proyeksi
Net ROAS Proyeksi
Profit Proyeksi

Model diminishing returns: Revenue baru = Revenue saat ini × (Spend baru ÷ Spend saat ini)k × faktor musiman. k kecil = makin cepat jenuh saat budget dinaikkan. Ini asumsi/heuristik untuk perencanaan, bukan prediksi pasti — sesuaikan k dengan histori performa akun kamu.

Goal-Seek — Target ROAS

Dihitung dari AOV & CPC channel masing-masing saat ini: CPA dibutuhkan = AOV ÷ Target ROAS, CVR dibutuhkan = CPC ÷ CPA dibutuhkan.

Slot Terbatas Bulan Ini

Mau tahu kenapa ROAS kamu segini? Klaim Audit Gratis dari Revmore

Tim Revmore bakal cek akun Google Ads & Meta Ads kamu secara menyeluruh — funnel, targeting, kreatif, sampai struktur biaya — lalu kasih rekomendasi konkret buat naikin ROAS. Gratis, tanpa form panjang, tanpa komitmen.

Klaim Audit Gratis Sekarang

Cara Membaca & Memakai Kalkulator Ini

Apa itu ROAS?

ROAS (Return on Ad Spend) mengukur berapa rupiah pendapatan yang dihasilkan dari setiap rupiah biaya iklan: Revenue ÷ Ad Spend. Makin tinggi angkanya, makin efisien iklannya — tapi ROAS kotor belum menjawab apakah kamu benar-benar untung.

Break-even vs Net ROAS

Break-even ROAS adalah angka minimum supaya bisnis tidak rugi, dihitung dari margin, ongkir, fee, dan pajak. Net ROAS menunjukkan efisiensi iklan yang sesungguhnya setelah semua biaya itu dikeluarkan — bukan cuma revenue kotor dibagi spend.

Blended ROAS (MER)

Marketing Efficiency Ratio menggabungkan performa Google Ads dan Meta Ads jadi satu angka: total revenue dibagi total spend kedua channel. Kalau cuma satu channel yang dipakai (lihat toggle di panel paling atas), metrik ini otomatis nonaktif dan semua angka menampilkan performa channel itu saja.

LTV : CAC & Payback Period

LTV : CAC menunjukkan apakah nilai pelanggan jangka panjang sepadan dengan biaya akuisisinya. Payback Period menunjukkan berapa bulan modal iklan per pelanggan baru kembali — makin cepat, makin ringan buat cashflow bisnis.

Cara pakai:

  1. Pilih channel yang mau dihitung — Google Ads saja, Meta Ads saja, atau keduanya — lalu pilih industri dan musim/periode.
  2. Isi data channel yang aktif: ad spend, revenue, konversi, impressions, dan clicks.
  3. Isi struktur biaya: margin kotor, ongkir per order, fee payment/marketplace, dan PPN.
  4. Klik "Hitung Sekarang" untuk melihat breakeven, net ROAS, dan posisi kamu vs benchmark industri.
  5. Geser slider di bagian simulasi untuk melihat proyeksi kalau budget dinaikkan atau diturunkan.
  6. Masukkan target ROAS di bagian Goal-Seek untuk tahu CPA dan CVR yang perlu dicapai.

Semua angka benchmark dan hasil simulasi di kalkulator ini bersifat estimasi umum untuk membantu perencanaan, bukan garansi performa aktual. Performa iklan sebenarnya tetap bergantung pada kualitas kreatif, targeting, funnel, dan kondisi pasar masing-masing bisnis.

Google Ads × Meta Ads — Benchmark 2026

Kalkulator ROAS & Cost Benchmark

Versi mobile — sama lengkapnya, tinggal ketuk tiap bagian untuk buka/tutup.

Google Ads & Meta Ads dipakai bersamaan — semua angka di bawah, termasuk Blended ROAS (MER), menggabungkan dua channel ini.

Ringkasan Performa

Total Ad Spend
Total Revenue
Blended ROAS (MER)
Break-even ROAS
Net ROAS
Net Profit
LTV : CAC
Payback Period

Instrumen ROAS

Rugi — di bawah break-even:
Untung, tapi di bawah rata-rata industri
Setara benchmark:
Top performer
Google: – Meta: – Blended: –

Tabel Perbandingan

Radar Efisiensi

Google Ads
Meta Ads

Makin jauh dari tengah = makin baik. Sumbu CPC & CPA dibalik (biaya rendah → titik tinggi).

Simulasi What-If

Spend Baru
Revenue Proyeksi
ROAS Proyeksi
Net ROAS Proyeksi
Profit Proyeksi

Revenue baru = Revenue saat ini × (Spend baru ÷ Spend saat ini)k × faktor musiman. Asumsi/heuristik untuk perencanaan, bukan prediksi pasti.

Goal-Seek

Slot Terbatas

Kenapa ROAS kamu segini? Klaim Audit Gratis dari Revmore

Tim Revmore cek akun Google & Meta Ads kamu, lalu kasih rekomendasi konkret. Gratis, tanpa form panjang.

Klaim Audit Gratis

Cara Pakai Kalkulator Ini

Apa itu ROAS?

Revenue ÷ Ad Spend. Makin tinggi, makin efisien — tapi belum menjawab apakah kamu benar-benar untung.

Break-even vs Net ROAS

Break-even = ROAS minimum supaya tidak rugi. Net ROAS = efisiensi sesungguhnya setelah HPP, ongkir, fee, dan pajak.

Blended ROAS (MER)

Gabungan performa Google + Meta Ads. Kalau cuma satu channel dipakai, metrik ini otomatis nonaktif.

LTV : CAC & Payback Period

Menunjukkan apakah nilai pelanggan jangka panjang sepadan dengan biaya akuisisi, dan berapa bulan modal iklan balik.

Cara pakai:

  1. Pilih channel, industri, dan musim/periode.
  2. Isi data channel yang aktif dan struktur biaya.
  3. Ketuk "Hitung Sekarang".
  4. Geser slider simulasi atau isi target ROAS di Goal-Seek.

Semua angka benchmark & simulasi bersifat estimasi umum, bukan garansi performa aktual.

Contoh Data yang Dipakai di Semua Perhitungan

Anggap ini data Google Ads kamu bulan ini:

  • Ad Spend: Rp10.000.000
  • Revenue: Rp40.000.000
  • Jumlah Konversi: 100
  • Impressions: 200.000
  • Clicks: 5.000
  • Margin kotor produk: 40%
  • Ongkir per order: Rp10.000
  • Fee payment/marketplace: 3%
  • PPN: 11%
  • Repeat purchase: 2x/tahun
  • Umur pelanggan: 2 tahun

Semua contoh di bawah pakai angka-angka ini

CTR (Click-Through Rate)

Definisi: persentase orang yang klik iklan dari total yang lihat iklan itu.

Kenapa penting: kalau CTR rendah, artinya iklan kamu kurang menarik atau targeting kurang pas — orang lihat tapi males klik.

Cara hitung: Clicks ÷ Impressions × 100

Contoh: 5.000 ÷ 200.000 × 100 = 2,5%

CPC (Cost Per Click)

Definisi: rata-rata biaya yang kamu bayar setiap ada satu klik.

Kenapa penting: CPC mahal berarti kompetisi ketat di keyword/audiens itu, atau Quality Score/relevansi iklan kamu kurang bagus.

Cara hitung: Spend ÷ Clicks

Contoh: Rp10.000.000 ÷ 5.000 = Rp2.000

CVR (Conversion Rate)

Definisi: persentase orang yang klik iklan lalu benar-benar closing/beli.

Kenapa penting: kalau CVR rendah walau CTR-nya bagus, masalahnya biasanya di landing page atau funnel — bukan di iklannya.

Cara hitung: Konversi ÷ Clicks × 100

Contoh: 100 ÷ 5.000 × 100 = 2%

CPA (Cost Per Acquisition)

Definisi: rata-rata biaya buat dapetin satu pelanggan/transaksi.

Kenapa penting: ini biaya akuisisi riil per closing — dipakai buat cek apakah biaya dapetin pelanggan masih masuk akal dibanding untung yang didapat dari pelanggan itu.

Cara hitung: Spend ÷ Konversi

Contoh: Rp10.000.000 ÷ 100 = Rp100.000

AOV (Average Order Value)

Definisi: rata-rata nilai belanja per transaksi.

Kenapa penting: AOV jadi dasar buat hitung banyak metrik lain di bawah (breakeven, target CPA, dll). AOV naik = makin banyak “napas” buat nutup biaya iklan.

Cara hitung: Revenue ÷ Konversi

Contoh: Rp40.000.000 ÷ 100 = Rp400.000

ROAS (Return on Ad Spend)

Definisi: setiap Rp1 yang dikeluarin buat iklan, balik jadi berapa rupiah revenue.

Kenapa penting: ini metrik paling umum dipakai, tapi jebakannya — ROAS tinggi belum tentu untung, karena belum dipotong HPP, ongkir, fee, dan pajak. Ini baru revenue kotor.

Cara hitung: Revenue ÷ Spend

Contoh: Rp40.000.000 ÷ Rp10.000.000 = 4,00x

Kelihatannya bagus kan, 4x? Tunggu sampai bagian berikutnya.

Break-even ROAS

Definisi: ROAS minimum yang kamu butuhkan supaya bisnis nggak rugi — angka ini beda-beda tiap bisnis, tergantung margin dan biaya operasional per order-nya.

Kenapa penting: ini yang paling sering dilewatin orang. ROAS 4x kedengeran “aman”, tapi kalau breakeven kamu ternyata 4,5x, itu artinya rugi, bukan untung. ROAS harus dibandingkan ke breakeven versi bisnis kamu sendiri, bukan angka umum.

Cara hitung:

HPP per order   = AOV × (1 − Margin%)

Kontribusi/order = AOV − HPP − Ongkir − Fee − Pajak

Kontribusi %    = Kontribusi per order ÷ AOV

Break-even ROAS = 1 ÷ Kontribusi %

Contoh:

  • HPP/order = Rp400.000 × (1 − 40%) = Rp240.000
  • Fee/order = Rp400.000 × 3% = Rp12.000
  • Pajak/order = Rp400.000 × 11% = Rp44.000
  • Kontribusi/order = Rp400.000 − Rp240.000 − Rp10.000 − Rp12.000 − Rp44.000 = Rp94.000
  • Kontribusi % = Rp94.000 ÷ Rp400.000 = 23,5%
  • Break-even ROAS = 1 ÷ 23,5% = 4,26x

Nah — ROAS kamu 4,00x, breakeven-nya 4,26x. Berarti kamu sebenarnya masih rugi, walau ROAS-nya kelihatan “bagus” di angka kasar.

Net ROAS (True ROAS)

Definisi: ROAS yang sudah dipotong semua biaya riil (HPP, ongkir, fee, pajak) — angka “bersih”, bukan revenue kotor.

Kenapa penting: ini jawaban paling jujur soal “iklan aku untung berapa sebenarnya”, dibanding ROAS biasa yang menyesatkan.

Cara hitung:

Net Revenue = Revenue × Kontribusi %

Net ROAS    = Net Revenue ÷ Spend

Contoh:

  • Net Revenue = Rp40.000.000 × 23,5% = Rp9.400.000
  • Net ROAS = Rp9.400.000 ÷ Rp10.000.000 = 0,94x

ROAS kelihatan 4x, tapi Net ROAS cuma 0,94x — di bawah 1x artinya rugi.

Net Profit

Definisi: untung/rugi bersih dalam Rupiah, bukan dalam kali lipat (x).

Cara hitung: Net Revenue − Spend

Contoh: Rp9.400.000 − Rp10.000.000 = −Rp600.000 (rugi Rp600rb)

Ini konfirmasi dari Break-even ROAS dan Net ROAS di atas — tiga metrik ini saling mengonfirmasi cerita yang sama.

Blended ROAS (MER — Marketing Efficiency Ratio)

Definisi: ROAS gabungan dari semua channel iklan (Google + Meta), bukan salah satu aja.

Kenapa penting: kadang Google Ads keliatan bagus sendiri, Meta juga keliatan bagus sendiri, tapi yang perlu diliat bos/owner adalah efisiensi marketing secara keseluruhan. MER adalah angka itu.

Cara hitung: Total Revenue semua channel ÷ Total Spend semua channel

Contoh: tambahkan data Meta Ads: Spend Rp8.000.000, Revenue Rp24.000.000 (ROAS Meta = 3x)

  • Total Spend = Rp10.000.000 + Rp8.000.000 = Rp18.000.000
  • Total Revenue = Rp40.000.000 + Rp24.000.000 = Rp64.000.000
  • Blended ROAS = Rp64.000.000 ÷ Rp18.000.000 = 3,56x

Catatan: kalau cuma pakai 1 channel, angka ini otomatis sama dengan ROAS channel itu sendiri — makanya di kalkulator, kalau kamu pilih “Google Ads Saja”, label “Blended ROAS (MER)” berubah jadi “ROAS Google Ads”, karena nggak ada yang digabung.

LTV (Lifetime Value) & CAC

LTV — Definisi: total profit yang dihasilkan satu pelanggan sepanjang dia jadi pelanggan kamu, bukan cuma dari pembelian pertama.

CAC — Definisi: biaya buat dapetin satu pelanggan baru (sama dengan CPA).

Kenapa penting LTV:CAC: kalau CAC lebih besar dari LTV, artinya kamu bayar lebih mahal buat dapetin pelanggan dibanding untung yang bakal dia hasilkan — bisnisnya nggak sustainable walau ROAS transaksi pertama kelihatan oke. Rule of thumb umum: sehat kalau di atas 3x.

Cara hitung:

LTV = Kontribusi per order × Repeat Purchase/tahun × Umur Pelanggan (tahun)

CAC = CPA

LTV : CAC = LTV ÷ CAC

Contoh:

  • LTV = Rp94.000 × 2 × 2 = Rp376.000
  • CAC = Rp100.000
  • LTV : CAC = Rp376.000 ÷ Rp100.000 = 3,76x

Meski per transaksi pertama kamu rugi (Net ROAS 0,94x), begitu diliat jangka panjang (pelanggan itu balik beli lagi), rasio LTV:CAC-nya masih 3,76x — sehat. Ini nunjukin kenapa ROAS jangan dinilai cuma dari transaksi pertama doang.

Payback Period

Definisi: berapa bulan modal iklan per pelanggan baru itu balik.

Kenapa penting: ini soal cashflow — LTV:CAC bagus tapi kalau baliknya 2 tahun, itu berat buat cashflow bisnis kecil. Makin cepat payback, makin ringan.

Cara hitung:

Profit bulanan per pelanggan = Kontribusi per order × (Repeat Purchase/tahun ÷ 12)

Payback Period (bulan) = CAC ÷ Profit bulanan per pelanggan

Contoh:

  • Profit bulanan = Rp94.000 × (2 ÷ 12) = Rp15.667
  • Payback = Rp100.000 ÷ Rp15.667 = 6,4 bulan

Kenapa dapat badge “Rugi” / “Setara Benchmark” / dst

Urutan pengecekannya, dari yang paling ketat:

  1. ROAS di bawah Break-even → Rugi — titik, nggak peduli benchmark industrinya berapa
  2. Di atas breakeven tapi di bawah rata-rata industri → Di Bawah Benchmark
  3. Masuk rentang rata-rata industri → Setara Benchmark
  4. Di atas rata-rata → Di Atas Benchmark
  5. Jauh di atas rata-rata → Top Performer

Kenapa breakeven dicek duluan: di contoh kita, ROAS 4x itu sebenarnya masuk rentang benchmark umum e-commerce (3,5x–7x) — kalau cuma liat benchmark, kelihatannya “Setara Benchmark”, padahal breakeven kamu 4,26x. Makanya breakeven harus jadi filter pertama — benchmark industri nggak tahu struktur biaya bisnis kamu, cuma breakeven kamu sendiri yang tahu.

Goal-Seek

Fungsinya: kebalikan dari kalkulasi biasa — kamu kasih target ROAS, alat kasih tahu CPA dan CVR yang harus dicapai.

Cara hitung:

CPA yang dibutuhkan = AOV ÷ Target ROAS

CVR yang dibutuhkan = CPC saat ini ÷ CPA yang dibutuhkan × 100

Contoh: target ROAS 5x

  • CPA dibutuhkan = Rp400.000 ÷ 5 = Rp80.000
  • CVR dibutuhkan = Rp2.000 ÷ Rp80.000 × 100 = 2,5%

Artinya: biar ROAS naik dari 4x ke 5x, CPA harus turun dari Rp100.000 ke Rp80.000 (atau CVR naik dari 2% ke 2,5%, dengan CPC tetap).

Simulasi What-If (Skala Budget)

Fungsinya: proyeksi kalau budget dinaikkan/diturunkan — tapi nggak linear, karena scaling budget biasanya kena diminishing returns (hukum hasil yang menurun).

Cara hitung:

Spend baru    = Spend sekarang × (1 + %perubahan)

Revenue baru  = Revenue sekarang × (Spend baru ÷ Spend sekarang) ^ k

k itu “elastisitas skala” (0,3–1,0). Semakin kecil k, semakin cepat jenuh — k = 1 artinya linear sempurna (nggak realistis buat scaling asli).

Contoh: budget naik 50% (jadi Rp15.000.000), k = 0,7

  • Rasio skala = 15.000.000 ÷ 10.000.000 = 1,5
  • Revenue baru = Rp40.000.000 × 1,5^0,7 = Rp40.000.000 × 1,328 = Rp53.120.000
  • ROAS baru = Rp53.120.000 ÷ Rp15.000.000 = 3,54x

Lihat: budget naik 50%, tapi revenue cuma naik ±33%, dan ROAS malah turun dari 4x ke 3,54x. Ini normal dan realistis — makin gede budget, makin susah nemu inventory audience/keyword baru yang sama bagusnya.